notice

welcome to my house...my blog, yang hanyalah sebuah tempat untuk berceloteh, yang tidak mungkin terbebas dari segala unsur subyektifitas...

Senin, 05 September 2011

Lebaran berjumpa lagi...

Tatkala takbir dan tahmid berkumandang, bedug bertalu talu, anak kecil berlari-lari, tak ketinggalan bunyi petasan dan kembang api menandakan kebahagiaan umat islam dalam merayakan hari raya idul fitri atau lebaran. Setelah sebulan umat islam menunaikan puasa dibulan ramadhan, digodok dan dibersihkan dari segala dosa, sampai tiba saatnya kita benar-benar suci, kembali ke fitri dengan bermaaf-maafan dan bersalam-salaman. Suasana itu lebih terasa ketika kita berada ditanah kelahiran. Tak heran menjelang lebaran idul fitri banyak orang yang ingin pulang kampung atau mudik.

Jutaan atau mungkin puluhan jutaan pemudik terjadi setiap tahunnya. Mereka rela mengantri untuk mendapatkan tiket bis, menunggu dibandara berjam-jam, bahkan sampai menginap untuk mendapatkan tiket kereta, tak peduli harga tiket yang melonjak tajam, atau bahkan berpanas-panas ria mengendarai roda dua untuk menempuh perjalanan sampai ratusan km. Luar biasa, fenomena yang hanya terjadi pada saat hari raya idul fitri dan hanya diIndonesia, tidak diluar negeri bahkan tidak dinegara Arab sendiri.

Diluar perbedaan tanggal 1 syawal, lebaran idul fitri tetap memiliki makna berbeda setiap tahunnya, setidaknya bagi aku pribadi. Oleh karena itu tak heran kalau mudik lebaran menjadi ritual setiap tahun, terutama bagi perantau diJakarta. Cape dan lelah selama perjalanan mudik sepertinya terbayar sudah saat tiba dikampung halaman. Bertemu dan melepas kangen dengan orang tua, sanak saudara, teman-teman, yang jika dihari biasa sulit dilakukan, bisa menikmati masakan rumah, dan mengenang masa kecil. Banyak cerita yang ingin dibagi dan banyak kabar yang ingin didengar. Waktu terasa berjalan begitu cepat.

Idul Fitri memang telah menjadi hari istimewa tidak hanya untuk yang merayakan tapi bagi yang tidak merayakannya pun turut menikmatinya. Tengoklah persiapan menyambut lebaran, mulai pasar-pasar tradisional sampai mall-mall dipenuhi pengunjung yang mencari kebutuhan untuk lebaran seperti baju baru, sepatu atau sendal baru bahkan aneka ragam kue kering untuk jamuan lebaran. Tidak peduli harganya yang sudah melonjak. Berkahnya bertabur untuk siapapun yang menginginkannya.

Kondisi berbeda akan kita temui jika kita datang ke masjid atau mushola yang shaffnya semakin maju . Padahal 10 hari terakhir adalah penuh rahmat dan pengampunan, juga dimana pada tanggal-tanggal ganjil kita semestinya semakin giat beribadah dalam rangka mendapatkan pahala lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Begitu juga dengan Jakarta, ibukota yang setiap harinya selalu ramai dan macet, tapi menjelang dan saat lebaran tiba, Jakarta berubah menjadi kota sepi yang ditinggal pergi penghuninya. Dan dikarenakan jadwal mudikku berbeda, untuk kali keempat aku bisa menikmati suasana lebaran diJakarta. Jalanan yang sepi senyap membuat perjalanan lebih cepat dari biasanya, warung-warung makan dan tukang jualan keliling bahkan angkutan umumpun sulit ditemukan, maklum, bagi anak kost seperti diriku, kehadiran mereka amatlah penting. Maka hunting makanan menjadi agenda favoritku usai bekerja. Tetapi tetap saja alternatif usahaku tidak membuahkan hasil, hamdallah, datanglah undangan dari temanku yang native Jakarta. Jadilah malam takbiran aku habiskan bersama mereka. Menyenangkan, dapat menikmati ketupat sayur dan menghilangkan rasa kangen akan keluarga dirumah, walaupun cuma sementara.

Di pagi idul fitri, aku minta maaf ke orang tua dan adik-adikku, walaupun hanya melalui pesawat telepon. Usai sholat idul fitri aku kembali ke kantor, kembali ke rutinitas semula. Lagi, simpanan mie instan dilokerku menyelamatkan maag ku untuk siangnya. Sore harinya, agendaku masih hunting makanan. Karena tak berhasil maka aku berencana membuat nasi goreng spesial ala dede. Heran, mengapa tak terfikir olehku untuk delivey, entahlah. Tetapi, belum sempat terlaksana rencanaku, ibu kost memberiku ketupat dan semur daging, hamdallah, memang kalau rezeki tidak akan kemana.

Lebaran sudah dilalui tapi masih belum afdol kalau agenda mudikku belum terlaksana, belum sungkem langsung sama orang tua, jadi taqabbalallaahu minna wa minkum, taqabbal yaa karim, shiyamana wa shiyamakum, minna aidin wal faidin untuk yang mengunjungi blogku dan yu mudik (lagi) yuu...

Selengkapnya...